Gerobak air dalam jeriken @ Rp4.000

Semua orang di kawasan saya hafal suara itu: keronceng-keronceng bunyi potongan tulang beton yang terikat pada jari-jari roda gerobak dorong panjang. Itulah gerobak pengangkut air jerikenan, yang dipasok truk tangki dari Bogor. Maka sebutannya adalah air Bogor.

Dua kompleks di kawasan saya, salah satunya adalah tempat saya bermukim, air tanahnya jelek. Tidak layak minum. Terutama untuk rumah di atas bekas empang, rawa, dan sawah. Solusinya adalah cara liar — saya termasuk salah satu pelaku — karena Pemkot Bekasi tak memberi solusi: warga membuat sumur bor dalam, 40 sampai 60 meter. Tanpa izin. Restu pun tidak apalagi doa dari penguasa.

Begitu buruknya air tanah sehingga pakaian putih cepat menjadi krem padahal sudah memakai Bayclin. Diameter pipa PVC — entah bermerek Pralon, Wavin, Rucika, maupun Alderon — bisa cuma seukuran batang rokok karena terisi endapan padat kecokelatan. Tangki toren juga mendangkal karena dihuni endapan.

Ketika tukang menggali parit fondasi saat saya membangun rumah, baru dikeduk hampir semeter sudah menjadi kolam dengan air cokelat. Meskipun demikian, beberapa rumah di seberang saya sumurnya normal. Kata orang kampung, lahan rumah-rumah itu dulunya tanah kampung, pas di kaki bukit rendah landai. Adapun tanah di rumah saya itu dulunya sawah.

Tentu tak semua orang beruntung bisa membuat sumur bor. Maka untuk memasak mereka harus membeli air — untuk minum ya beli air galon. Harganya Rp4.000 per jeriken, diangkut oleh gerobak yang sanggup membawa 16 jeriken.

Taruh kata setiap jeriken berisi hampir 20 liter, maka saat berangkat si pendorong gerobak — ada dua gerobak, masing-masing dengan pilot batangan — membawa hampir 320 liter. Setara dengan 320 kilogram, pagi dan sore.

Pak Air yang selalu lewat depan rumah saya sekarang kian menua. Sudah likuran tahun dia berkeronceng-keronceng. Anak-anak yang masa kecilnya makan sup dengan air dari gerobaknya sekarang sudah punya anak seusia SMP.

Iklan