Warteg, air putih, dan sedotan

Air putih es dan teh tawar hangat di warteg

Tersebab mendadak hujan deras akhirnya saya belokkan sepeda ke teras sempit warteg. Daripada basah tempias saya pun masuk, mengudap sekadarnya. Saya ingat, terakhir ke warteg, bukan di rute bersepeda saya tapi di Jalan Sabang, Jakpus, adalah dua tahun lalu. Setelah itu tidak, atau belum ke warteg lagi.

Warteg Sabang itu biasa saja. Tidak bisa disebut enak. Tapi kalau sedang bingung makan apa, saya pilih ke sana karena relatif bersih. Oktober 2019 saya ke sana. Mungkin vetsinnya terlalu banyak sehingga tenggorokan saya panas dan jadi batuk kering kecil terutama dalam udara kering di ruang sempit, misalnya kabin mobil. Sampai tiga minggu saya batuk kecil, kumat sejam sekali, sebentar saja. Saya tak ke dokter.

Air putih es dan teh tawar hangat di warteg

Nah, di warteg untuk berteduh ini saya disuguhi air putih dingin dengan es batu dan sedotan. Di warung biasa saya tak berani minum air putih dengan atau tanpa es karena tak yakin apakah menggunakan air matang. Saya curiga warung menggunakan air galon isi ulang. Untuk amannya, dari sisi sugesti, saya memilih teh tawar hangat sambil berasumsi warung menggunakan air matang panas dicampur air galon isi ulang.

Kalau di warung padang langganan, saya sering minta air putih hangat. Kadang juga panas supaya saya yakin matang. Seusai saya menyantap pasti suhu air putih sudah turun.

Pilihan paling aman adalah memesan air kemasan dalam botol yang sering disebut air mineral padahal belum tentu. Soal sampah plastik, saya menghibur diri pasti pemulung secara berkala akan mengambil ke warung.

Air putih dingin dan sedotan, bikin tuman banyak orang

Untuk minuman warteg ini, hanya yang air es yang diberi sedotan. Soal sedotan, saya membayangkan umumnya orang usia 45 tahun ke bawah sajak kecil terbiasa minum dengan buluh. Apa boleh buat. Satu hal yang saya tidak tahu, apakah di rumah mereka juga menggunakan penyedot.

Iklan