Angkringan tanpa pikulan nasi kucing

Sudah lama di Jatiwarna, Bekasi, ada angkringan Pak Djo karena dulu saya lewati saat bersepeda sore. Tapi saya mencoba baru bulan ini. Itu pun via Gofood. Ternyata enak. Gudegnya juga. Tapi kalau pesan di atas pukul tujuh malam, beberapa sajian sudah habis.

Tadi sore menjelang malam magrib saya bersama istri dan si bungsu ke sana. Nasi kucing maupun nasi bakar masih ada. Begitu pun sejumlah lauk, dari paru sampai usus ayam, tapi saya m lebih suka tempe bacem sebagai pelengkap gudeg kerecek telur.

Nama warung macam ini di mana-mana adalah angkringan, padahal umumnya memakai gerobak bahkan mulai tumbuh yang tanpa gerobak. Angkringan adalah pikulan.

Maka pikulan pula yang menjadi monumen di Desa Ngerangan, Bayat, Klaten, Jateng. Desa itu menjadi asal pedagang angkringan. Tentu sekarang di banyak kota, pengusaha angkringan tak harus orang Klaten.

Saya tidak tahu kapan persisnya sebutan sega kucing atau nasi kucing muncul. Di Jogja sampai pertengahan 1980-an setahu saya jarang ada angkringan nasi kucing dengan nasi bungkus berporsi kecil dan lauk mini sekadarnya. HIK seperti di Sala setahu saya dulu jarang dikenal di Jogja.

Dulu di Jogja, 1980-an, warung khusus mi instan rebus setahu saya juga sedikit. Warung roti bakar (robak) malah ada di mana-mana, dengan tenda bertuliskan KUD Boyolali — maksudnya dari sanalah susu sapi untuk minuman teman robak berasal. Setelah itu baru warung bubur kacang ijo (burjo), tapi yang tak semenonjol robak. Generasi awal burjo setahu saya antara lain di Jalan Magkubumi, seberang Kedaulatan Rakyat.

Itulah cerita makanan murah di Jogja. Kini warung mi instan rebus, dengan nama Indomie padahal ada merek lain, berdiri di setiap kampung.

Dulu saya heran, sekarang pun masih: mi instan yang dirancang untuk kepraktisan rumah tangga, bahkan muncul versi mangkuk tak perlu panci dan kompor, disajikan sebagai masakan warung. Pengudap cuma ingin direbuskan. Serupa minum kopi sasetan. Tak ada seni meramu.

Pada angkringan nasi kucing, masih ada seni perdapuran sederhana. Sama seperti penjual makanan malam murah, tanpa nasi bungkus, milik Pak Dul dulu Di Jalan Gejayan, bukan Jalan Affandi, abad lalu, di dekat SD Bopkri Demangan.