Paket belanja tiba di kantor karena eh karena…

Sudah biasa, sehingga para satpam di portiran dan resepsionis di ruang depan kantor hafal wajah kurir logistik. Saat orang kantor masuk penuh, tiada hari tanpa paket. Apalagi saat THR cair, ditambah bonus.

Banyak alasan mengapa membeli barang lalu alamat tujuan kirim adalah kantor.

  • Di kantor selalu ada penerima, bahkan di luar jam kerja, pun pada hari libur, yakni satpam — terutama kantor yang memakai gedung sendiri
  • Bandingkan dengan di rumah: belum tentu ada orang. Sedangkan di indekos, yang hafal nama penghuni hanya asisten kos dan satpam, syukur jika induk semang serumah
  • Barang tiba di kantor tak memancing rasa ingin tahu seperti di rumah, apalagi jika anggota keluarga lain jarang menerima paket
  • Barang yang tiba di kantor bisa berupa apa saja yang tak akan dipakai di rumah, dari sepatu futsal sampai sepeda dan hi-fi
  • Jika bosan dengan barang yang dulu paketnya via kantor, dan tak pernah dibawa pulang, hibah ke pihak lain tak mengundang protes istri atau suami

Boleh dibilang kantor lebih memberikan privasi dibandingkan orang rumah. Tapi tak berarti privasi terlindungi sepanjang karier.

Kadang ada yang kepo membaca tulisan kecil pada label. Misalnya dari lapak lingerie, dengan nama barang “pakaian”, padahal si pemesan, apalagi perempuan lajang, ingin berlindung dari pertanyaan orang rumah.

Begitu pun pria yang kerap menerima paket kotak kecil dengan tulisan “kosmetik” padahal pengirimnya toko parfum. Pantesan si Mas selalu wangi, aromanya gonta-ganti, padahal menginap di kantor.

Paling apes adalah paket bukan pesanan melainkan hadiah ulang tahun. Tanpa tulisan tapi ketika dibuka isinya adult toys untuk perempuan. Penerimanya juga perempuan.

¬ Gambar praolah: Shutterstock

Iklan